Energi, Habitat, Relung dan Adaptasi

ENERGI

Seperti yang kita ketahui bahwa matahari adalah sumber energy terbesar di bumi ini. Energi tersebut berwujud kalor atau panas dan juga cahaya. Energi tersebut dapat digunakan secara langsung dan tidak langsung. Tumbuhan menggunkan energy tersebut secara langsung untuk proses fotosintesis. Sedangkan PLTS memanfaatkan energy dari matahari tersebut untuk membangkitkan listrik. Lalu, apa yang dimaksud dengan ENERGI???

Energi didefenisikan sebagai suatu kesanggupan untuk melakukan kerja. Untuk dapat memahami definisi energy kita perlu mengetahui hukum termodinamika I dan II.

  • Hukum termodinamika I : Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan tetapi dapat berubah bentuk , hukum ini disebut juga hukum kekekalan energy. Contoh bentuk energy : energy panas, energy bunyi, energy kinetic, energy potensial dan sebagainya.
  • Hukum termodinamika II mengatakan tidak mungkin energi dapat dirubah menjadi kerja seluruhnya, tetapi sebaliknya kerja dapat dirubah menjadi energy atau bahasa sederhananya tidak ada perubahan bentuk energy yang efisien.

Di alam terjadi suatu proses yang dinamakan aliran energy. Aliran energy ini mengacu pada kedua hukum termodinamika. Aliran energy juga terjadi berbarengan dengan proses rantai makanan. Seperti yang dijelaskan di awal aliran energy terjadi berawal dari matahari, energy matahari dimanfaatkan tumbuhan dan diubah menjadi energy kimia kemudian tumbuhan dimakan oleh herbivore lalu herbivore dimakan oleh karnivora. Begitulah proses aliran energy secara sederhana, namun pada kenyataannya di alam aliran energy ini terjadi lebih kompleks.

 

HABITAT

Habitat adalah tempat suatu makhluk hidup tinggal dan berkembang biak. Biasanya habitat merupakan suatu lingkungan yang mampu mendukung makhluk hidup untuk dapat tinggal dan bertahan hidup. Daya dukung disini seperti adanya sumber makanan, air dan oksigen.

Selain itu, istilah habitat dapat juga dipakai untuk menunjukkan tempat tumbuh sekelompok organisme dari berbagai spesies yang membentuk suatu komunitas. Sebagai contoh untuk menyebut tempat hidup suatu padang rumput dapat menggunakan habitat padang rumput, untuk hutan mangrove dapat menggunakan istilah habitat hutan mangrove.

Setiap makhluk hidup mempunyai habitat yang sesuai dengan kebutuhannya. Apabila terjadi gangguan atau perubahan yang cepat makhluk tersebut mungkin akan mati atau pergi mencari habitat lain yang cocok. Misalnya jika terjadi arus terus-menerus di pantai habitat bakau, dapat dipastikan bakau tersebut tidak akan bertahan hidup. Akan tetapi jika terjadi perubahan secara perlahan atau berevolusi, lama kelamaan makhluk yang ada di situ akan berusaha melakukan penyesuaian diri, atau beradaptasi yang akhirnya mungkin akan terjadi jenis baru.

 

RELUNG

Relung (niche) adalah posisi atau status suatu organisme dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu, yang merupakan akibat adaptasi struktural, tanggap fisiologis serta perilaku spesifik organisme itu. Jadi relung suatu organisme bukan hanya ditentukan oleh tempat organisme itu hidup, tetapi juga oleh berbagai fungsi yang dimilikinya. Dapat dikatakan, bahwa secara biologis, relung adalah profesi atau cara hidup organisme dalam lingkungan hidupnya. Untuk dapat membedakan relung suatu organisme, maka perlu diketahui tentang kepadatan populasi, metabolisme secara kolektif, pengaruh faktor abiotik terhadap organisme, pengaruh organisme yang satu terhadap yang lainnya.

Relung diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :

–          Relung fundamental    : gambaran dari potensi keseluruhan suatu spesies.

–          Relung realitas             : gambaran spectrum yang lebih terbatas akan kondisi-kondisi dan sumber daya alam yang dibutuhkan untuk bertahan.

 

ADAPTASI

Salah satu ciri makhluk hidup adalah melakukan adaptasi. Alam bersifat dinamis sehingga makhluk hidup akan selalu berusaha menyesuaikan diri untuk dapat bertahan hidup. Jadi yang dimaksud dengan adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik. Suatu makhluk hidup tidak mampu beradaptasi maka dia akan terkena seleksi alam atau punah. Adaptasi dikelompokan menjadi 3, yaitu :

  • Adaptasi morfologi

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Contohnya bentuk paruh burung disesuaikan dengan jenis makanannya.

  • Adaptasi Fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada hewan anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

  • Adaptasi Tingkah Laku

Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang gurita yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.

Untuk lebih memahami mengenai evolusi, suksesi dan faktor pembatas dapat dilihat di blog  http://liviainnonchyka.wordpress.com/

 

Sumber

http://akuakulturunhas.blogspot.com/2008/11/energi-dalam-ekologi.html

http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2118621-definisi-habitat/

http://blogs.unpad.ac.id/dedetresna/?p=8

http://organisasi.org/macam-jenis-adaptasi-makhluk-hidup-morfologi-fisiologi-dan-tingkah-laku-untuk-menyesuaikan-diri

Distribusi Salinitas di Laut

Seperti yang kita ketahui air laut rasanya asin karena mengandung garam. Garam tersebut terdiri dari banyak zat-zat terlarut yang dibagi dalam 4 kelompok yaitu :

  • Elemen mayor                : Cl, Na, SO4 dan Mg
  • Gas terlarut                     : CO2, N2 dan O2
  • Elemen minor                : Si, N dan P
  • Trance elemen                : I, Fe, Mn, Pb dan Hg

Selain zat-zat terlarut di atas, air laut juga mengandung butiran-butiran halus dalam suspensi. Sebagian zat ini akan terlarut dan sebagian lagi akan mengendap ke dasar laut dan sisanya diuraikan oleh bakteri laut. Semua zat-zat terlarut inilah yang menyebabkan rasa asin pada air laut.

Untuk mengukur tingkat keasinan air laut itulah maka digunakan istilah salinitas. Salinitas juga dapat digunakan di perairan manapun namun memang yang paling mencolok adalah di laut. Salinitas dapat didefinisikan sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air. Dalam keadaan stabil di laut kadar salinitasnya berkisar antara 34o/oo sampai 35 o/oo. Tiap daerah memiliki kadar salinitas yang berbeda beda seperti di daerah tropis salinitasnya berkisar antara 30-35 o/oo, tetapi tidak terdapat pertambahan kadar garam. Kadar garam ini tetap dan tidak berubah sepanjang masa.

Lalu mengapa kadar salinitas di setiap perairan berbeda, padahal kadar garamnya tetap? Hal ini disebakan karena adanya distribusi salinitas di laut. Distribusi ini terjadi secara vertical dan horizontal. Distribusi salinitas dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu :

©     Pola sirkulasi air : membantu penyebaran salinitas

©     Penguapan (evaporasi) : semakin tinggi tingkat penguapan di daerah tersebut, maka salinitasnya pun bertambah atau sebaliknya karena garam-garam tersebut tertinggal di air contohnya di Laut Merah kadar salinitasnya mencapai 400/00.

©     Curan hujan (presipitasi) : semakin tinggi tingkat curah hujan di daerah tersebut, maka salinitasnya akan berkuran atau sebaliknya hal ini dikarenakan terjadinya pengenceran oleh air hujan.

©     Aliran sungai di sekitar (run off) : semakin banyak aliran sungai yang bermuara pada laut maka salinitasnya akan menurun dan sebaliknya.

Distribusi Salinitas Secara Horizontal

Distribusi salinitas secara horizontal yaitu semakin kearah lintang tinggi maka salinitas juga akan bertambah tinggi. Maka dari itulah salinitas di daerah laut tropis (daerah di sekitar khatulistiwa) lebih rendah daripada salinitas di laut subtropis. Daerah yang memiliki salinitas paling tinggi berada pada daerah lintang antara 30°LU dan 30°LS kemudian menurun ke arah lintang tinggi dan khatulistiwa. Di perairan Indonesia yang termasuk iklim tropis, salinitas meningkat dari arah barat ke timur dengan kisaran antara 30-35 o/oo. Air samudera yang memiliki salinitas lebih dari 34 o/oo ditemukan di Laut Banda dan Laut Arafuru yang diduga berasal dari Samudera Pasifik (Wyrtki,1961).

Sebaran salinitas secara horizontal tersebut terjadi karena faktor-faktor utama yang telah disebutkan di atas, yaitu run off, presipitasi, evaporasi dan pola sirkulasi air namun selain itu ada beberapa faktor lainnya yang ternyata mempengaruhi distribusi secara horizontal yaitu angin dan topografi.

Presipitasi di daerah tropis lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya maka terjadi pengenceran air laut yang menyebabkan rendahnya salinitas di daerah tropis. Di Indonesia system angin munson sangat berpengaruh terhadap sebaran salinitas baik secara vertical dan horizontal. Secara horizontal dikarenakan angin munson mempengaruhi arus untuk bergerak dan arus akan membawa massa air. Angin munson akan menyebabkan terjadinya musim hujan dan musim panas. Perubahan musim inilah yang menyebabkan variasi tahunan salinitas perairan seperti terjadinya perubahan sirkulasi massa air yang bersalinitas tinggi dengan massa air bersalinitas rendah. Sedangkan topografi mempengaruhi salinitas suatu wilayah perairan karena terkait dengan ada tidaknya limpasan air tawar yang berasal dari sungai menuju muara. Akibatnya adanya limpasan (run off) maka akan terjadi pengadukan yang berdampak pada pengenceran.

Distribusi salinitas secara vertical

Disribusi secara vertical terjadi dengan semakin bertambahnya kedalaman. Pola distribusi vertikal menurut Ross (1970) dalam Rosmawati (2004), sebaran menegak salinitas dibagi menjadi 3 lapisan yaitu lapisan tercampur dengan ketebalan antara 50-100 m dimana salinitas hampir homogen , lapisan haloklin yaitu lapisan dengan perubahan sangat besar   dengan bertambahnya kedalaman 600-1000 m dimana lapisan tersebut dengan tegas memberikan nilai salinitas minimum.

Angin sangat menentukan penyebaran salinitas secara vertical. Di Indonesia, Sistem angin muson berpengaruh bagi sebaran salinitas perairan secara vertikan maupun horizontal. Angin menyebabkan arus yang membawa massa air seperti arus yang bersalinitas tinggi dari Lautan Pasifik yang masuk melalui Laut Halmahera dan Selat Torres. Di Laut Flores, salinitas perairan rendah pada Musim Barat sebagai akibat dari pengaruh masuknya massa air Laut Jawa, sedangkan pada Musim Timur, tingginya salinitas dari Laut Banda yang masuk ke Laut Flores mengakibatkan meningkatnya salinitas Laut Flores. Laut Jawa memiliki massa air dengan salinitas rendah yang diakibatkan oleh adanya run-off dari sungai-sungai besar di P. Sumatra, P. Kalimantan, dan P. Jawa

Faktor selain angin adalah pengadukan. Pengadukan dalam lapisan permukaan seperti upwelling dapat memungkinkan salinitas menjadi homogen. Upwelling mengangkat massa air dengan tingkat salinitas tinggi di lapisan dalam dan mengakibatkan naiknya tingkat salinitas permukaan perairan

Sumber:

http://andhikaprima.wordpress.com/2009/12/28/salinitas-salinity/

http://one-geo.blogspot.com/2010/01/karakteristik-air-laut-ii.html

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!